Di tengah kesibukan kegiatan belajar mengajar, tim media GPH SMP Luqman Al Hakim mendapatkan kesempatan untuk berbincang santai dengan Ustadz H. Samsuddin, M.M., Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Di sela-sela kesibukannya, Ustadz Samsuddin dengan penuh semangat membagikan pandangannya tentang nilai-nilai kepahlawanan dan peran pesantren dalam membentuk karakter unggul generasi penerus bangsa.
Menurut Ustadz Samsuddin, Hari Pahlawan lebih dari sekadar seremonial mengenang para pejuang yang telah gugur. “Ini saatnya untuk introspeksi,” katanya dengan tegas. “Apakah kita sudah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan agama, sebagaimana yang dilakukan oleh para pahlawan?” Dalam perspektif Islam, lanjutnya, pahlawan adalah seseorang yang berjuang demi kebaikan (al-haq) semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Sosok pahlawan sejati tidak mengharapkan pengakuan dunia, tetapi berkorban demi ridha-Nya.

Kepahlawanan Bukan Hanya Slogan
Ustadz Samsuddin menggarisbawahi bahwa pesantren bukan hanya tempat untuk mendalami ilmu agama, tetapi juga merupakan kawah candradimuka bagi generasi penerus yang siap mengabdikan diri untuk masyarakat. “Di pesantren, kalian tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tapi juga akhlak dan keteladanan,” jelasnya. Pesantren memberikan ruang bagi santri untuk memahami nilai-nilai kepahlawanan, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian kepada sesama. “Semangat kepahlawanan bukan hanya slogan, tapi harus tertanam dalam setiap tindakan—di kelas dan dalam interaksi sosial,” tegasnya.
Dalam kesehariannya, para santri di SMP Luqman Al Hakim diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berani menegakkan kebenaran. Ustadz Samsuddin berharap, santri-santri ini kelak bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. “Kalian harus siap membawa kebaikan dan memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa,” ujarnya.
Pahlawan Inspirasi Aktivis Pendidikan
Tidak hanya bagi santri, semangat kepahlawanan juga diharapkan bisa menginspirasi para pendidik dan aktivis pendidikan di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. “Menjadi seorang pendidik bukanlah tugas ringan,” tutur Ustadz Samsuddin. “Tugas ini adalah warisan mulia yang menuntut keikhlasan dan semangat juang tinggi.” Dalam pandangannya, guru dan aktivis pendidikan yang ikhlas membimbing generasi muda tanpa semata-mata mengharap imbalan dunia adalah pahlawan sesungguhnya.
Sebagai seorang pahlawan, seorang pendidik berjuang setiap hari. Langkah-langkah kecil dalam mendidik—mulai dari mendampingi santri memahami pelajaran hingga membimbing mereka mengatasi masalah pribadi—semuanya adalah bagian dari perjuangan membentuk generasi unggul yang berakhlak mulia. “Setiap pengorbanan, setiap senyum yang diberikan guru, adalah langkah menuju masa depan bangsa yang lebih baik,” tambah Ustadz Samsuddin.
Jadilah Pahlawan Sejati
Menutup pembicaraan, Ustadz Samsuddin berpesan agar santri dan aktivis pendidikan menjadikan Hari Pahlawan sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik. “Jadilah pahlawan di bidang masing-masing. Entah itu di bidang pendidikan, sosial, dakwah, atau dalam perjuangan memperbaiki diri sendiri. Pahlawan sejati adalah mereka yang tak pernah lelah berbuat kebaikan, yang ikhlas demi kemajuan umat dan bangsa tanpa menunggu pengakuan,” pungkasnya.
Semangat ini adalah bekal yang akan terus dibawa oleh para santri dan aktivis di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Mereka adalah calon-calon pahlawan yang siap menempuh jalan panjang, dengan keikhlasan dan pengabdian, demi kemajuan bangsa dan agama. (admin/aka)